follow

Kamis, 23 Januari 2014

SEJARAH KERAJAAN MOUTONG (METODOLOGI SEJARAH)



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Awal orang Belanda datang ke Indonesia bukan untuk menjajah melainkan malainkan untuk begadang mereka dimotivasi oleh hastrat untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya, sekalipun harus mengarungi laut yang berbahaya sejauh ribuan kilometer dalam kapal layar kecil untuk mengambil rempah-rempah di Indonesia. Namun, para pedagang Belanda itu merasa perlunya memiliki tempat yang permanen di daratan daripada berdagang dari kapal yang berlabuh di laut. Metode kolonialisasi Belanda sangat sederhana mereka memepertahankan raja-raja yang berkuasa dan menjalankan pemerintah melalui raja-raja itu akan tetapi menuntut monopoli dan hak berdagang dan eksploitasi sumber daya alam.[1]
Kerajaan Moutong merupakan salah satu kerajaan besar yang ada di wilayah Sulawesi tengah, tepatnya di Kabupaten Moutong. Kerajaan Moutong terbentung atas cikal bakal dari Kerajaan Kasimbar. Kerajaan-kerajaan ini memiliki sistem kekuasaan yang masih sangat sederhana atau bersifat tradisional, yang memang saat itu masih kental dengan tradisi dan bersih dari sentuhan tangan-tangan penjajah.
Sistem pemerintah tradisional yang berkembang di Moutong yang disebut kekuasaan keolongianan yang terdiri atas jojogu, wukum/ukumi, madding/marinu, kapitan/kapitalau, pasobo, pasori, dan pangata. Dalam pandangan tradisional biasanya disebut sebagai pelaku adat masyarakat setempat inilah pangkat Birokrasi tradisional yang memiliki kedudukan penting di ke olongianan tersebut.[2]
Masyarkat yang tergabung dalam sistem keolongianan ini terdapat enam jenis dialek atau bahasa dan enam suku, seperti dialek Tialo yang digunungan oleh masyarakat Moutong, Tomini, Dondo yang ada di Toli-toli, dan wakai. Dialek Lauje yang digunakan oleh masyarakat Tinombo, Sojol, sebagian Tomini, dan Ampibabo. Dialek Taijo digunakan oleh masyarakat Tinombo, Ampibabo, Sirenja, dan Balaesang. Dialek Taje, digunakan oleh masyarakat pedalaman seperti Sidole, Silanga, dan Tovera di Ampibabo. Dialek Pendau digunakan oleh masyarakat pedalaman yang hampir hilang di Tada Lembani Tinombo, Kasimbar, Posona, dan Siveli. Dialek Bolano digunakan oleh Masyarakat di Bolano dan Moutong.[3]   
Kerajaan Moutong terbentuk atas cikal bakal dari kerajaan kasimbar yang bernama Raja Pataikacci (Arajang Logas) memerintahkan anaknya bernama Magallatu untuk tinggal di Moutong pada tahun 1771. Sekitar tahun 1778 kekuasaan diserahkan pada anaknya untuk menjadi Raja. Saat itulah Manggalatu memilih Moutong sebagai pusat kerajaan, sedangkan kerajaan Kasimbar tetap dijalankan, yang diserahkan kapada saudara Magallatu yakni Baru’langi, dan kemudian digantikan lagi oleh Suppu (1899-1904). Pada masa kekuasaan Raja Suppu (Raja Kasimbar), pemerintah Kolonial Belanda berhasil membujuk bekerja sama, sehingga Ratu Wilhelmina di Nederland  sebagai kepala pemerintahan kerajaan Belanda, mengeluarkan Besluit (surat keputusan) resminya suppu menjadi paduka raja Kasimbar.[4]
Sejak 1778 kerajaan Moutong terbentuk, dan dipimpin oleh Pataikaci yang tidak lama kemudian dipimpin oleh raja Magallatu sebagai raja ke-2  Moutong. Kehidupan masyarakat  sangat damai,  perekonomian dan pendapatan sudah mencukupi. Saat itupula pedagang asing mulai berdatangan untuk berdagang bersama, seperti portugis, inggris, Belanda, dan Cina. Kedatangan para pedagang asing tersebut dengan cara damai, seperti halnya di daerah yang ada di Indonesia lainnya.
Pada waktu Raja Massu diangkat sebagai Raja ke-3 untuk kerajaan Moutong pada tahun 1822-1877. Hubungan dagang dengan pedagang lokal maupun asing masih tetap terjalin baik. Pada masa inipula penyebaran agama islam mulai dilakukan pedagang Bugis dan Mandar yang dikenal dengan istilah Pandita. Kemudian, pada tahun 1877-1904 Raja Tombolotutu diangkat menjadi Raja ke-4, sekitar tahun 1898, kerajaan Moutong mulai menunjukkan tujuan yang sesungguhnya, yaitu ingin menguasai wilayah tersebut. Dalam memajukan ekonomi rakyatnya, maka Raja Tombolotutu menganjurkan kepada rakyatnya untuk menanam pohon kelapa dan padi. Selain itu, aktivitas perdagangan di Teluk Tomini tetap dilaksanakan sebagaimana yang telah dilakukan oleh pendahulunya. Semakin ramainya Pelabuhan Moutong dari aktivitas perdagangan, menuntut pengamanan yang lebih baik. Untuk itu, Raja Tombolotutu memperkuat pertahanannya dengan membeli senjata dari bangsa Portugis dan Sultan Ternate. Hal ini juga untuk mengantisipasi gejala yang kurang baik yang diperlihatkan oleh pihak Belanda yang mulai memperlihatkan ambisi untuk memonopoli pardagangan.[5]
Kerajaan Moutong menghadapi Belanda (1898-1904), sebagaimana yang terjadi diberbagai wilayah di Indonesia, kedatangan bangsa Belanda di Pelabuhan Moutong pada awalnya menunjukkan sifat yang baik dan masih bersahabat. Namun, dalam perkembangannya setelah melihat adanya potensi yang besar pada daerah tersebut, maka secara perlahan pihak Belanda mulai menunjukkan  tujuan yang sesungguhnya yaitu memonopoli perdagangan dan bahkan menguasai wilayah itu. Keinginan Belanda untuk menguasai wilayah Teluk Tomini telah nampak pada usaha untuk mendekati penguasa setempat dan mencoba menerapkan politik adu domba antar para penguasa-penguasa Olongiang dan Magau dan Raja Moutong. Namun, usaha tersebut tidak memperoleh hasil yang memuaskan.[6] Berbagai usaha yang ditempuh oleh Belanda namun tetap saja gagal, pada akhirnya Belanda menempuh tindak kekerasan.
1.2 Batasan Masalah
Untuk memfokuskan persoalan yang akan dibahas dalam penelitian ini dan menghindari terjadinya kerancuan dalam perinterpretasian, maka perlu pembatasan masalah penelitian yang mencakup:
1.2.1 Scope Kajian
Scope kajian disini menunjukan pada bidang historys atau yang akan dikaji dalam penulisan ini adalah sejarah perlawanan kerajaan Moutong di era kolonial pada Abad 19-20.
1.2.2 Scope Spasial
Scope Spasial menunjuk pada tempat yang menjadi Objek penelitian yaitu di Moutong. Dengan adanya batasan tempat ini maka akan lebih mudah untuk mengetahui gambaran, serta mendapatkan data-data penelitian yang sesuai, akurat, dan lebih dapat dipercaya kebenarannya.
1.2.3 Scope Temporal.
Aspek Temporal (pembatasan waktu), dimana dalam penelitian ini berusaha untuk mendeskripsikan kondisi perkembangan kerajaan Moutong pada abad 18-20 (1778-1904).
1.3 Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini akan membahas mengenai kondisi kerajaan Moutong pada saat sebelum (pra) dan sesudah (pasca) kedatangan Kolonial Belanda di Moutong, pada 1778-1904. Namun, yang akan dikaji lebih luas hanyalah pada tahun 1899-1904, karena pada kurun waktu inilah Belanda memulai misinya, yang menimbulkan perlawanan dari kerajaan Moutong.
Adapun masalah-masalah lain yang juga akan dikaji ialah awal kedatangan bangsa Belanda yang berpengaruh pada pemerintahan dan perekonomian kerajaan Moutong, serta sejarah pertanian yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat Mouotng.
Berdasarkan judul dan latar belakan masalah, maka yang menjadi pokok pembahasan dalam penulisan ini adalah:
1.      Faktor apa yang membuat Belanda berlabuh di pelabuhan Moutong?
2.      Bagaimana kondisi kerajaan mouton pra dan pasca kedatangan colonial Belanda?
3.      Sejauhmana kondisi sosial ekonomi yang ditimbulkan oleh monopoli Belanda?
1.4 Kerangka Teoritis dan Pendekatan
Penulisan sejarh ini merupakan sejarah yang bersifat local, yang bila perlu dinangkat sampai ke penulisan yang bersifat nasional. Dalam penulisan ini menggunakan teori-teori social, dan teori konflik. Adapun pendekatannya menggunakan social-historis yang mana mengkaji mengenai kejadian masa lampau yang berkenaan dengan system social di tengah masyarakat serta berbagai konflik yang terjadi sejak kedatangan Belanda di Moutong.
Marx dan Waber memandang konflik dan pertentangan kepentingan serta concern dari berbagai individu dan kelompok yang saling bertentangan adalah determinan utama dalam pengorganisasian kehidupan sosial. Dengan kata lain, struktur masyarakat sangat ditentukan oleh upaya-upaya yang dilakukan oleh berbagai individu dan kelompok untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan mereka. Karena sumber-sumber dayaini dalam kadar tertentu selalu  terbatas, maka konflik untuk mendapatkannya selalu terjadi.[7] Dengan demikian hal ini berkaitan erat dengan keadaan kerajaan Moutong, yang mana terjadi berbagai konflik yang berujung pada perlawanan, yang disebabkan oleh tujuan Belanda untuk menguasai sumber daya alam yang ada di wilayah Moutong. Dari teori yang dikaitkan dengan permasalahan di atas sehingga dapat dikatakan bahwa kedatangan Belanda di Moutong menimbulkan perlawanan dari masyarakat.
1.5 Manfaat dan Tujuan Penulisan
Dari penulisan diatas terdapat beberapa manfaat, baik untuk penyusunan maupun pembaca. Manfaat utama dalam kajian ini adalah dapat menambah cakrawala pengetahuan mengenai kerajaan-kerajaan Moutong, dan masuknya Bangsa Belanda di Moutong, yang awalnya membawa perdamaian namun lama-kelamaan mulai menunjukkan sikap dan tujuan mereka yang sebenarnya, yakni menguasai daerah tersebut dan meraub kekayaan sumber daya alam. Namun disisi lain ada manfaatnya, karena dengan adanya bangsa asing seperti Belanda, Inggris, Prancis, dan Cina di Moutong, sudah mengenal pardagangan atau hubungan luar negeri meskipun masih dalam status sistem kerajaan, berkat perdagangan itu pula kerajaan Moutong sempat Berjaya dengan gelar salah satu kerajaan bercorak maritime di Sulawesi.
Adapun tujuan dari penulisan ini, untuk mengungkapkan beberapa fakta peristiwa masa lampau yang terjadi di Bumi Moutong yang berlandaskan pada rumusan permasalahan, khusunya kedatangan bangsa Belanda di kerajaan Moutong. Yang menjadi tujuan pokok disini untuk mengungkapkan alasan berlabuhnya Belanda di Moutong, dan ingin mengetahui kondisi kerajaan  Moutong baik saat sebelum datangnya Belanda maupun sesudah, serta menjelaskan kondisi sosial ekonomi yang ditimbulkan oleh monopoli Belanda.
1.6 Tinjauan Pustaka dan Sumber
Pada penelitian ini menggunakan konsep tinjauan pustaka yang diambil dari beberapa sumber penulisan sejarah, serta dukungan teori yang dapat dijadikan tambahan referensi. Untuk penulisan kajian ini dapat dikatakan sulit ketika minimnya referensi yang ada, namun sangat mudah ketika referensi yang ada tersebut dimanfaatkan dan dikaji secara mendalam sehingga menghasilkan penulisan yang komplit. Seperti tulisan Haliadi Sadi, Syakir Mahid, Aidar J. Lapato, Wilman Darsono, dan Fatma Saudo sebagai tim penulis Sejarahb dan Lembaga Penelitian Masyarakat di Parigi Moutong dan Universitas Tadulako, yang mengungkapkan secara rinci mengenai kerajaan serta penjajahan yang pernah ada di Moutong, Sulawesi Tengah.
Dalam mengumpulkan sumber atau yang dikenal dengan istilah Heuristik ini penyusun memanfaatkan sarana yang ada, seperti tersedianya perpustakaan pusat Universitas Negeri Gorontalo, serta adanya toko-toko buku atau penerbit buku, guna sebagai pengumpulan sumber referensi tertulis.
Tahap heuristik ini banyak menyita waktu, biaya, tenaga, pikiran, dan juga perasaan. Ketika kita mencari dan mendapatkan apa yang kita cari maka kita merasakan seperti menemukan “Tambang Emas”. Tetapi jika kita setelah bersusah payah kemana-mana (di dalam negeri maupun ke luar negeri) ternyata tidak mendapatkan apa-apa, maka kita”frustasi”. Oleh sebab itu sebelum itu sebelum kita mengalami yang terakhir ini, harus lebih dahulu menggunakan kemampuan pikiran mengatur strategi; dimana dan bagaiman kita akan mendapatkan bahan-bahan tersebut; siapa-siapa atau instansi yang dapat kita hubungi; beberapa biaya yang harus dikeluarkan.[8] Itulah sebait pesan dari Helius Sjamsudin untuk para peneliti dan penelis sejarah.
1.7 Metode Penelitian      
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah, seperti yang dituliskan oleh A. Daliman[9], atau langkah-langkah penelitian sejarah adalah sebagai berikut:
1.7.1 Heuristik
Heuristik adalah sebuah kegiatan mencari atau mengumpulkan sumber-sumber sejarah untuk mendapatkan data-data, atau materi sejarah, atau evidensi sejarah.
1.7.2 Kritik
Kritik adalah suatu kegiatan analisis kritis terhadap sumber-sumber sejarah yang berhasil dikumpulkan, dengan tujuan agar fakta sejarah tetap dijaga keasliannya. Kritik adalah langkah berikutnya setelah penulis berhasil mengumpulkan data-data sejarah.
1.7.3 Interpretasi
Interpretasi adalah pengelompokkan  dan penafsiran fakta-fakta sejarah yang saling berhubungan yang diperoleh dalam bentuk penjelasan terhadap fakta tersebut dengan sesubyektif mungkin.
1.7.4 Historiografi
Historiografi atau penulisan sejarah adalah tahap akhir dari seluruh penelitian sejarah yaitu heuristic, kritik, interpretasi, dan disatukan menjadi sebuah historiografi yang telah melalui analisis kritis sehingga menjadi suatu penulisan yang utuh.










BAB II DESKRIPSI WILAYAH
2.1 Kondisi Geografis
2.2 Struktur Pemerintahan
2.3 Stratifikasi Sosial
2.4 Kebudayaan
2.5 Potensi Alam
BAB III KEHIDUPAN SOSIAL KERAJAN MOUTONG
3.1 Kerajaan Moutong          
3.2 Masuknya Bangsa Belanda
BAB IV DAMPAK KEDATANGAN BANGSA BELANDA
4.1 Kerajaan Moutong Sebagai Kerajaan Bercorak Maritim
4.2 Kondisi Perekonomian Pasca Monopoli Perdagangan Belanda
4.3 Perlawanan Raja Tombolotutu
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan
5.2 Saran-Saran
Lampiran-Lampiran




DAFTAR PUSTAKA
Helius Sjamsudin. 2012. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

A. Daliman. 2012. Metode Penelitian Sejarah. Yogyakarta: ombak.

Nasrullah Nazir. 2009. Teori-teori Sosiologi. Bandung: Widya Padjadjaran.

S. Nasution, 2011. Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Haliadi Sadi, dkk. 2012. Sejarah Kabupaten Parigi Moutong. Yogyakarta: Ombak.


[1] S. Nasution, 2011. Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. Hlm: 03
[2] Haliadi Sadi, dkk. 2012. Sejarah Kabupaten Parigi Moutong. Yogyakarta: Ombak. Hlm: 26
[3] Ibid. Hlm: 27
[4] Ibid. Hlm: 46
[5] Ibid. Hlm: 53
[6]  Ibid. Hlm: 54
[7] Nasrullah Nazir. 2009. Teori-teori Sosiologi. Bandung: Widya Padjadjaran. Hlm: 17
[8] Helius Sjamsudin. 2012. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak. Hlm: 67
[9] A. Daliman. 2012. Metode Penelitian Sejarah. Yogyakarta: ombak. Hlm: 28

6 komentar:

  1. minta izin untuk dilink kan ke blog ku ya

    BalasHapus
  2. Kedatangan Belanda untuk Begadang...? Pantas Haji Roma Irama Marah..hahaha

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Mohon Infonya karena saya pernah baca buku Sejarah Sulawesi Tengah tentang cikal bakal kerajaan Moutong itu berasal dari Mandar (Mamuju), Manggalatung adalah anak bangsawan Mandar Mamuju (Nae) yang dititip di Kerajaan Lambunu yang kemudian oleh Bangsawan Mandar tsb. mendirikan Kerajaan Moutong, yang dalam arti Moutong (tinggal) = Mottong. sumber buku; Sejarah sulawesi Tengah, Anhar Gonggong dkk. hal; 43-44, 53.

    BalasHapus
  5. ini linknya
    https://books.google.co.id/books?id=JvGHCgAAQBAJ&pg=PA68&lpg=PA68&dq=kerajaan+bolano&source=bl&ots=CI-EiYMbqG&sig=WKAVBAgibnYA-4sMQEvr0ZRRBos&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwiYsJWphJjYAhWMPY8KHYopD78Q6AEIdjAO#v=snippet&q=Moutong&f=false

    BalasHapus
  6. https://puadarawati.blogspot.co.id/2017/11/raja-tombolotutu.html?m=1

    BalasHapus